Tugas Mandiri 04: Purwaning Pieta Baskara E04

Refleksi Sosial: Kehidupan Masyarakat di Cileungsi–Cibubur

Lokasi Observasi:

Lingkungan tempat tinggal di sekitar Cileungsi–Cibubur, Kabupaten Bogor

Pendahuluan

Saya memilih wilayah Cileungsi–Cibubur sebagai lokasi observasi karena daerah ini memiliki karakter sosial yang menarik. Terletak di perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Jakarta Timur, daerah ini dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang yang sangat beragam baik dari segi suku, budaya, maupun agama. Ada pendatang dari berbagai daerah seperti Jawa, Betawi, Sunda, Batak, dan bahkan beberapa warga keturunan Tionghoa. Keberagaman ini menjadikan lingkungan Cileungsi–Cibubur sebagai miniatur kecil dari masyarakat Indonesia yang majemuk.

Alasan saya memilih lokasi ini juga karena saya berasal dari daerah Cileungsi–Cibubur. Saat ini saya memang sedang merantau ke Jakarta untuk kuliah, namun saya merasa lebih memahami kondisi sosial dan kebiasaan masyarakat di daerah asal saya tersebut. Saya juga melihat bahwa di tengah perkembangan wilayah yang semakin maju banyaknya perumahan baru, pusat belanja, dan akses jalan tol. Masyarakatnya tetap berusaha menjaga nilai kebersamaan dan gotong royong yang sudah ada sejak lama. Dengan begitu, saya bisa melakukan observasi dengan lebih mendalam dan menilai bagaimana masyarakat di sana menjaga hubungan sosial di tengah keberagaman yang terus berkembang.

Temuan Observasi

Dari hasil pengamatan dan pengalaman saya selama tinggal di Cileungsi–Cibubur, masyarakat di sana umumnya memiliki hubungan sosial yang baik dan saling menghormati satu sama lain. Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, warga tetap bisa hidup berdampingan dengan damai.

Contoh Positif:

Kegiatan sosial seperti kerja bakti, arisan RT, dan acara peringatan hari besar nasional masih sering dilakukan bersama. Biasanya kegiatan dimulai sejak pagi hari, dan hampir semua warga ikut berpartisipasi, baik bapak-bapak, ibu-ibu, maupun remaja. Anak-anak muda mulai dilibatkan dalam kegiatan seperti lomba 17 Agustus, turnamen olahraga antarwarga, atau penggalangan dana untuk warga yang sedang sakit. Selain itu, setiap perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal, warga saling menghormati dan saling mengucapkan selamat tanpa memandang agama.

Salah satu hal yang saya kagumi adalah sikap saling bantu antarwarga. Misalnya, saat ada tetangga yang terkena musibah, warga sekitar langsung bergotong royong membantu tanpa perlu diminta. Bahkan, di beberapa RT, warga membuat sistem iuran kecil bulanan yang hasilnya digunakan untuk kepentingan sosial bersama. Hal ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan dan solidaritas di lingkungan Cileungsi–Cibubur masih cukup kuat.

Contoh Negatif:

Namun, masih ada sebagian warga terutama dari kalangan muda yang kurang aktif dalam kegiatan lingkungan. Beberapa lebih fokus pada pekerjaan, kuliah, atau aktivitas pribadi, sehingga partisipasi mereka dalam kegiatan sosial cenderung menurun. Kadang, saat ada kegiatan gotong royong, hanya warga yang sudah berumur yang terlihat hadir, sedangkan anak muda lebih memilih beraktivitas di luar atau sibuk dengan gawai masing-masing. Akibatnya, muncul jarak kecil antara generasi muda dan warga yang lebih tua, terutama dalam hal komunikasi dan kerja sama di lingkungan.

Selain itu, sesekali muncul perbedaan pendapat dalam grup WhatsApp warga, terutama saat membahas isu politik atau kebijakan lingkungan. Meski tidak sampai menimbulkan konflik besar, hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa keberagaman pandangan bisa menjadi tantangan jika tidak dihadapi dengan sikap saling menghormati.

Analisis

Fenomena sosial di Cileungsi–Cibubur mencerminkan bentuk integrasi sosial horizontal, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang mampu hidup berdampingan secara damai. Nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan solidaritas menjadi kunci utama dalam menjaga keharmonisan lingkungan. Hal ini sejalan dengan konsep integrasi nasional, yaitu proses penyatuan perbedaan menjadi satu kesatuan yang utuh demi menciptakan stabilitas sosial.

Kegiatan sosial yang dilakukan bersama menjadi sarana efektif dalam mempererat hubungan antarwarga. Interaksi sehari-hari seperti saling menyapa, membantu tetangga, atau berbagi informasi di lingkungan membantu membangun rasa saling percaya dan memperkuat identitas sosial bersama. Namun, fenomena menurunnya partisipasi dari generasi muda bisa menjadi tanda adanya pergeseran nilai akibat modernisasi. Kesibukan, gaya hidup individualis, dan pengaruh media sosial bisa membuat generasi muda semakin jauh dari kegiatan sosial di lingkungan sekitar.

Untuk menjaga agar integrasi tetap kuat, diperlukan peran aktif semua pihak, terutama tokoh masyarakat dan pemuda. Kolaborasi lintas generasi penting agar nilai gotong royong dan kebersamaan tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup dalam praktik sosial sehari-hari.

Refleksi Diri dan Pembelajaran

Melalui observasi ini, saya menyadari bahwa membangun keharmonisan dalam masyarakat bukanlah hal yang instan. Dibutuhkan kesadaran, kebiasaan, dan kemauan dari semua pihak untuk saling peduli dan berinteraksi dengan baik. Sebagai seseorang yang kini merantau dan tinggal di Jakarta, saya merasa pengalaman di daerah asal saya menjadi pengingat penting bahwa nilai kebersamaan dan solidaritas perlu dijaga di mana pun saya berada.

Saya juga belajar bahwa sekecil apa pun kontribusi kita seperti ikut gotong royong, menghadiri rapat warga, atau sekadar menyapa tetangga dengan ramah bisa memberi pengaruh besar dalam menciptakan suasana lingkungan yang harmonis. Dari masyarakat Cileungsi–Cibubur, saya belajar bahwa keberagaman bukanlah hal yang harus ditakuti, tetapi justru sesuatu yang bisa memperkaya hubungan sosial jika dikelola dengan baik.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari hasil observasi, dapat disimpulkan bahwa masyarakat di daerah Cileungsi–Cibubur memiliki tingkat solidaritas dan toleransi yang cukup tinggi. Walaupun ada beberapa kendala seperti kurangnya partisipasi dari generasi muda dan perbedaan pandangan dalam media sosial, secara umum hubungan antarwarga tetap berjalan harmonis dan saling menghargai.

Rekomendasi:

• Mendorong keterlibatan generasi muda melalui kegiatan sosial yang lebih kreatif dan sesuai minat.

• Membentuk forum komunikasi antarwarga lintas usia agar hubungan antar generasi bisa lebih terbuka dan saling memahami.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Terstruktur 01: Purwaning Pieta Baskara E04

Tugas Mandiri 03: Purwaning Pieta Baskara E04

Tugas Terstruktur 02: Kelompok 01