Pendahuluan
Buat saya, integritas bukan cuma soal jujur atau tidak berbohong. Integritas adalah soal berani konsisten antara apa yang saya yakini dengan apa yang saya lakukan, bahkan saat tidak ada yang melihat. Sebagai mahasiswa, integritas jadi hal yang krusial karena kampus bukan cuma tempat cari nilai, tapi juga tempat membentuk karakter. Nilai akademik bisa dikejar, tapi karakter akan dibawa sampai kita masuk ke dunia kerja dan hidup bermasyarakat.
Di lingkungan kampus, integritas sering diuji lewat hal-hal yang kelihatannya sepele: titip absen, mencontek “sedikit”, atau copy-paste tugas dengan alasan kepepet. Justru dari hal-hal kecil itulah integritas diuji. Kalau sejak mahasiswa kita sudah terbiasa mencari jalan pintas dan membenarkan ketidakjujuran, maka ke depannya perilaku itu bisa terbawa terus. Karena itu, menurut saya, integritas bukan sesuatu yang abstrak, tapi pilihan nyata yang harus diambil setiap hari.
Batang Tubuh
Selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, saya beberapa kali berada di situasi di mana integritas saya benar-benar diuji. Salah satunya saat menghadapi tugas dengan tenggat waktu yang mepet. Di kondisi seperti itu, godaan untuk menyalin pekerjaan orang lain atau mengambil referensi tanpa mencantumkan sumber terasa sangat besar. Apalagi ketika melihat teman-teman lain melakukannya dan terlihat “baik-baik aja”. Sering juga muncul pikiran, “Lagian dosennya juga nggak bakal tau.”
Selain itu, titip absen juga menjadi hal yang cukup umum. Ada saatnya saya tidak bisa hadir ke kelas karena alasan tertentu, dan pilihan paling mudah adalah meminta teman untuk mengisi daftar hadir. Secara sistem, mungkin hal itu bisa lolos. Tapi secara hati nurani, ada rasa tidak nyaman karena saya sadar bahwa kehadiran bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari tanggung jawab sebagai mahasiswa.
Situasi lain yang cukup menantang adalah kerja kelompok. Tidak semua anggota selalu berkontribusi secara adil, dan terkadang muncul kesepakatan diam-diam untuk “bagi hasil” jawaban atau menyamakan tugas antar kelompok. Di titik ini, integritas diuji bukan hanya secara individu, tetapi juga secara kolektif. Saya pernah berada di posisi harus memilih antara ikut arus demi solidaritas atau tetap mengerjakan sesuai kemampuan sendiri, meskipun hasilnya mungkin tidak sebaik yang lain.
Jika integritas diabaikan di lingkungan kampus, dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Mahasiswa bisa terbiasa menghalalkan segala cara demi nilai, bukan demi pemahaman. Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran justru berubah menjadi tempat normalisasi ketidakjujuran. Lebih jauh lagi, lulusan yang dihasilkan bisa memiliki kompetensi yang nilai nya tinggi di atas kertas, tapi rapuh secara etika.
Fenomena ini ternyata tidak berhenti di kampus, tetapi berlanjut ke kehidupan bermasyarakat. Di masyarakat luas, integritas juga menjadi barang yang mahal. Kasus korupsi yang terus bermunculan menunjukkan bahwa banyak orang pintar dan berpendidikan tinggi justru gagal menjaga kejujuran saat memegang kekuasaan. Ini membuat saya berpikir bahwa krisis integritas bukan karena kurangnya aturan, tetapi karena lemahnya komitmen moral individu.
Selain korupsi, penyebaran hoaks di media sosial juga mencerminkan rendahnya integritas di ruang publik. Banyak orang menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya, entah demi sensasi, kepentingan pribadi, atau sekadar ikut-ikutan. Ketidakjujuran seperti ini mungkin tidak langsung merugikan secara materi, tetapi dampaknya besar terhadap kepercayaan sosial. Ketika kebohongan dianggap biasa, maka kejujuran justru terlihat aneh.
Menurut pengamatan saya, integritas sulit ditegakkan di masyarakat karena ada budaya permisif terhadap pelanggaran kecil. Banyak orang berpikir, “Selama tidak ketahuan” atau “Yang penting saya tidak sendirian melakukannya”. Pola pikir seperti ini sangat berbahaya karena membuat ketidakjujuran terasa normal dan bisa dibenarkan. Padahal, integritas sejatinya diuji justru saat tidak ada tekanan eksternal dan tidak ada sanksi langsung.
Penutup
Dari refleksi sebagai mahasiswa dan pengamatan terhadap kehidupan bermasyarakat, saya menyadari bahwa integritas bukanlah sesuatu yang muncul secara instan. Integritas dibentuk melalui kebiasaan kecil, keputusan sehari-hari, dan keberanian untuk berbeda di tengah lingkungan yang permisif terhadap ketidakjujuran. Menjaga integritas memang tidak selalu nyaman, bahkan terkadang membuat kita terlihat “tidak solid” atau “terlalu idealis”. Namun, menurut saya, itulah harga yang harus dibayar untuk tetap jujur pada diri sendiri.
Setelah lulus dan terjun ke dunia profesional, saya berkomitmen untuk menjaga integritas dengan cara-cara yang konkret. Saya akan berusaha jujur dalam pekerjaan, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, dan tidak mengambil jalan pintas yang melanggar etika, meskipun ada tekanan atau kesempatan untuk melakukannya. Saya juga ingin membiasakan diri untuk berkata tidak pada hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang saya yakini, meskipun itu berarti kehilangan keuntungan jangka pendek.
Pada akhirnya, integritas adalah pilihan personal yang dampaknya bersifat kolektif. Jika semakin banyak individu yang memilih untuk jujur dan bertanggung jawab, maka lingkungan kampus, dunia kerja, dan masyarakat secara keseluruhan akan menjadi ruang yang lebih sehat. Bagi saya, menjaga integritas bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus berusaha melakukan hal yang benar, bahkan saat itu sulit dan tidak populer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar